Ketika Sengketa di Rembang Yang Tak Kunjung Usai

Ketika Sengketa di Rembang Yang Tak Kunjung Usai

Ramah serta rukun. Kesan ini yang kami rasakan waktu menjumpai orang-orang di Desa Timbrangan serta Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, Jawa Tengah pada Jumat, 31 Maret 2017. Tak ada perseteruan pada kubu orang-orang yang menampik dengan kubu yang mensupport hadirnya pabrik yang di bangun PT Semen Indonesia (SI) di situ, seperti yang diisukan sampai kini serta ramai dibicarakan di sosial media.

Terbayang, kalau masalah ini tak ada, pasti kerukunannya mengagumkan. Berikut potret sosial lokasi pegunungan batu kapur di Rembang, yang ada di gugusan pegunungan Kendeng, yang terbentang di utara Jawa Tengah.

Lokasi ini begitu mengundang selera untuk pemburu kalsit. Mineral pembentuk batu kapur itu memanglah diperlukan untuk bahan baku konstruksi seperti semen serta beton. Kalsit juga dipakai untuk industri kimia, dari mulai cat, karet, plastik sampai kosmetik serta farmasi. Jadi tidak heran apabila banyak penambang batu kapur disini.

Masuk lokasi pegunungan, tampak belasan pertambangan swasta sama-sama berimpitan. Telah mulai sejak 1995 perusahaan-perusahaan itu melakukan aktivitas di pegunungan Kendeng. Bekalnya yaitu izin galian C dari pemerintah propinsi Jawa Tengah saat itu. Lahannya mereka bisa dari warga yang jual tanah pertaniannya.

Tidak jauh dari sana, sesudah melewati satu-dua bukit serta hamparan rimba jati, tampak satu pabrik semen yang cukup megah. Instalasi pertambangan itu berdiri diatas tempat seluas 50 hektare punya SI. Pembangunannya baru rampung 2016 tempo hari. Tetapi, penambangannya belum bisa dikerjakan.

Operasional pabrik ini terhalang oleh gosip pelestarian lingkungan. Beberapa orang-orang Kendeng lakukan tindakan memasung kaki dengan semen sebagai bentuk memprotes sekalian menampik hadirnya pabrik semen yang dikira meneror kelestarian alam pegunungan Kendeng sebagai sumber kehidupan mereka.

Unjuk rasa yang dikerjakan oleh beberapa puluh orang yang tergabung dalam Jaringan Orang-orang Perduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) itu memperoleh sorotan sesudah Patmi, salah seseorang perempuan yang memasung kaki dengan semen, wafat pada Selasa awal hari 21 Maret 2017. Patmi berhimpun dalam tindakan ini mulai sejak Kamis 16 Maret.

Pada Senin petang 20 Maret 2017, sepulang dari tindakan semen kaki di depan Istana Negara, Patmi mandi di kantor YLBHI di Jalan Diponegoro, Jakarta. Kemudian, ia mengeluh keadaan tubuh tidak nyaman. Karena Patmi kejang-kejang lantas muntah, staf YLBHI lalu membawanya ke Tempat tinggal Sakit St Carolus di Salemba. Pihak tempat tinggal sakit menyebutkan Patmi wafat pada Selasa 21 Maret 2017 sekira jam 02. 55 WIB lantaran sakit jantung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *